Pilar Keuangan

Pisahkan Uang Bisnis dengan Uang Keluarga

Pisahkan Uang Bisnis dengan Uang Keluarga

Topik kita kali ini yakni Pisahkan Uang Bisnis dengan Uang Keluarga. Fungsi uang bisnis dengan uang keluarga berbeda 180 derajat. Uang bisnis untuk sesuatu yang produktif. Sedangkan uang keluarga untuk kebutuhan konsumtif. Jelaslah bahwa keduanya harus diletakkan dalam catatan atau rekening terpisah. Kedisiplinan dalam memisahkan uang bisnis dan uang keluarga merupakan modal utama dalam membangun bisnis apapun.

Pisahkan Uang Bisnis dengan Uang Keluarga

Pisahkan Uang Bisnis dengan Uang Keluarga

Sebuah ilustrasi untuk memudahkan memahami tentang kenapa harus pisahkan uang bisnis dan uang keluarga. Bu Siti kini merasakan perkembangan bisnis Toko Rotinya sudah bagus. Jadwal pesanan kue yang tertempel di dinding kantornya terlihat padat. Terlebih pada hari-hari libur.

Di ruang produksi ada lima orang karyawan yang sibuk menyiapkan kue-kue pesanan. Bu Siti merasa sangat bersyukur roti-roti produksinya telah banyak disukai konsumen. Tapi bu Siti merasakan ada keganjilan dalam bisnisnya. Meskipun selalu ramai pesanan, tapi uang simpanannya tidak bertambah banyak.

Setiap kali uang pembayaran dari konsumen terkumpul, selalu saja tersedot untuk membayar bon ke supplier bahan baku. Kemudian sisanya akan segera ludes untuk keperluan keluarga seperti belanja harian, bayar sekolah anak, bayar kredit motor, renovasi rumah, dll.

Ia pun coba mengevaluasi apakah harga jual roti-rotinya terlalu murah jika dibandingkan biaya produksi. Ternyata tidak. Roti-roti produksi Bu Siti justru harganya sedikit lebih mahal dari produk lain yang sejenis.

Pada siang harinya ada telpon di meja Bu Siti berdering. Setelah diangkat teleponnya bu Siti mendapat tagihan bon yang belum terbayarkan dari Toko Alam Persada yang merupakan supplier terigu bu Siti. Tagihan yang belum terbayarkan pada bulan ini yaitu sebesar Rp 1,4 juta. Supplier terigu tersebut menanyakan kapan akan dilunasi tagihan tersebut.

Malam harinya setelah semua aktivitas toko rotinya usai, bu Siti pun mulai membuka catatan pemasukan dan pengeluaran. Hanya itu satu-satunya catatan miliknya. Tidak ada catatan buku stock barang, tidak ada buku catatan utang, apalagi catatan laporan rugi laba bulanan.

Ketika bu Siti menelusuri catatan pengeluaran, barulah ia sadar apa yang membuat keganjilan dalam keuangan bisnisnya. Dua minggu sebelumnya, ia mengambil uang untuk membelikan laptop anaknya yang baru saja masuk Perguruan Tinggi. Meskipun bukan laptop “high class”, tapi pengambilan uang usaha ini cukup mengganggu arus kas (cash flow).

Campuraduk Uang Bisnis dan Keluarga

Permasalahan yang dialami Bu Siti ini banyak terjadi pada pebisnis-pebisnis yang lain. Yang belum secara tegas pisahkan uang bisnis dengan keuangan keluarga. Saat awal merintis bisnis, campur aduknya uang bisnis dengan uang keluarga tidak begitu membuat masalah. Ini karena pembelian bahan baku dilakukan secara cash. Namun, setelah usaha berkembang pesat, dan pembayaran ke supplier dilakukan sistem tempo, uang di laci kadang terlihat banyak, pengeluaran pun jadi tidak terkontrol.

Godaan untuk bisa segera tampil sebagai pebisnis sukses pun kerap menjadi biang terganggunya keuangan bisnis. Misalnya saat arisan diadakan di rumah bu Siti, ada seorang teman yang nyeletuk, “bisnis rotinya sudah laris manis tetapi kenapa TVnya masih kuno?”. Celetukan ini pun membuat bu Siti sedikit gerah. Tidak lama kemudian, dia pun mengganti televisi kunonya dengan TV LCD berlayar lebar. Jika hal ini terjadi terus-menerus, bukan tidak mungkin bu Siti akan kehabisan modal untuk kelanjutan bisnisnya.

Selain materi tentang pisahkan uang bisnis dengan uang keluarga, kami juga menyediakan info peluang bisnis. Program reseller Pijar Rabbani bisa jadi alternatif bisnis di masa pandemi seperti sekarang.

Demikian info tentang Pisahkan Uang Bisnis dengan Uang Keluarga semoga bermanfaat.

Referensi :

Leave a Comment