Pendidikan Islami

Kesalahan Para Pendidik yang perlu Anda Mengerti

Kesalahan para Pendidik

Apakah Anda tahu bila setiap orangtua adalah seorang pendidik bagi anak-anaknya? Dan sebagai pendidik terkadang kita melakukan suatu kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Simak artikel beberapa kesalahan para pendidik yang perlu Anda mengerti dan jauhi.

Kesalahan para Pendidik

Kesalahan Para Pendidik

Berikut ini beberapa kesalahan yang sering oleh para pendidik lakukan. Semoga Allah memberikan ma’unah (pertolongan-Nya) kepada kita untuk dapat menjauhinya dan menunjukkan kita kepada yang benar.

1. Ucapan Tak Sesuai dengan Perbuatan

Ucapan pendidik tak sesuai dengan perbuatan merupakan kesalahan para pendidik yang paling penting. Karena anak belajar dari orangtua tentang beberapa hal. Namun hal ini ternyata bertentangan dengan apa yang sudah orangtua ajarkan.

Tindakan ini akan berpengaruh buruk terhadap mental dan perilaku anak. Allah SWT mencela perbuatan ini dengan Firman-Nya dalam QS. Ash Shaff : 2 – 3.

Bagaimana anak akan belajar :

  • kejujuran kalau mengetahui orangtuanya berdusta?
  • sifat amanah sementara ia melihat bapaknya menipu?
  • akhlak baik jika orang sekitarnya suka mengejek, berkata jelek, dan berakhlak buruk?
2. Tak Adanya Kesepakatan antara Kedua Orangtua

Tidak adanya kesepakatan dalam hal cara tertentu dalam pendidikan anak merupakan kesalahan para pendidik (orangtua) yang penting juga. Terkadang seorang anak melakukan perbuatan tertentu di hadapan kedua orangtua, namun reaksinya :

  • sang ibu memuji dan mendorong;
  • sang bapak memperingatkan dan mengancam.

Anak akhirnya jadi bingung, mana yang benar dan mana yang salah di antara kedua orangtuanya. Dengan pengertiannya yang masih terbatas, anak belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Sehingga hal itu akan menyebabkan anak jadi bimbang dan segala urusan tak jelas baginya.

Sementara, bila kedua orangtua punya cara yang sama dan tak menunjukkan perbedaan ini, niscaya tak akan terjadi kerancuan tersebut.

3. Membiarkan Anak Jadi Korban Televisi

Media massa mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perilaku dan perbuatan anak, dan media paling berbahaya adalah televisi. Hampir tak ada rumah yang tak punya televisi. Padahal pengaruhnya demikian luas terhadap :

  • anak,
  • orang dewasa,
  • orang-orang berpengetahuan,
  • orang yang terbatas pengetahuannya,
  • dan lainnya.

Anak dan orang dewasa cenderung menerima tanpa mempertanyakan segala informasi yang tampil di film dan kelihatan realistis. Mereka dapat mengingat materinya dengan cara yang lebih baik, maka akal pikiran mereka menelan begitu saja nilai-nilai yang rendah itu.

Kesalahan para pendidik yang banyak terjadi adalah tidak menaruh perhatian bahwa anak mereka kecanduan menonton televisi (tv). Padahal ini sangat berpengaruh terhadap akhlak dan fitrah mereka. Sampai acara anak-anak juga penuh dengan berbagai pemikiran keji, yang anak peroleh lewat acara yang tv tayangkan.

Banyak film kartun yang berisi kisah cinta dan romantisme, sampai di antara anjing atau binatang lainnya. Tidakkah Anda melihat bagaimana seekor kucing betina (dalam acara itu) ditampilkan :

  • sangat anggun,
  • berdandan dengan bulu mata panjang,
  • mata yang bercelak indah,
  • buah dada yang montok,
  • berlenggak-lenggok untuk menggaet hati sang kucing jantan?

Penampilan perang tanding untuk wanita, juga :

  • mabuk-mabukan,
  • merokok,
  • mencuri,
  • melakukan tipu muslihat,
  • berdusta,
  • dan sifat-sifat lainnya yang tidak sopan.

Tayangan ini semua menyerbu dunia anak dan menodai fitrah yang suci dengan dalih acara anak-anak.

Oleh sebab itu, anak-anak perlu kita lindungi dari perangkat yang merusak ini. Dan usaha ini tidak kita ragukan. Bahwa ia bukan sesuatu yang mudah tetapi juga bukan suatu yang mustahil.

Jika kita ingin menjaga akhlak putra-putri kita dan mempersiapkan mereka untuk mengemban misi Agama dan umat. Semoga Allah melimpahkan ma’unah-Nya kepada kita.

4. Menyerahkan Tanggung Jawab Pendidikan Anak pada Pengasuh

Kesalahan para pendidik yang sangat serius dan banyak terjadi adalah fenomena kesibukan ibu dari peran utamanya. Di mana perannya yaitu merawat :

  • rumah dan anak-anak
  • serta hal-hal yang tentunya tak kalah penting dari pendidikan anak.

Misalnya :

  • sibuk dengan karir di luar rumah,
  • sering mengadakan kunjungan,
  • menghadiri pertemuan,
  • atau hanya karena malas-malasan,
  • dan tidak mau menangani langsung urusan anak.

Padahal ini sangat berpengaruh terhadap kejiwaan anak dan berbagai nilai yang mereka serap. Karena, anak kecil merupakan orang pertama yang dirugikan dengan keluarnya ibu dari rumah untuk bekerja / berkarir.

Anak akan kehilangan kasih sayang, karena sang ibu membiarkannya dalam perawatan wanita lain, seperti pembantu atau membawanya ke tempat pengasuhan. Ini bahaya sekali terhadap kejiwaan anak dan masa depannya. Karena anak berkembang tanpa kasih sayang orangtua.

Bila miskin kasih sayang, anak akan bertindak keras terhadap para anggota masyarakatnya. Akibatnya masyarakat hidup dalam :

  • kehancuran,
  • keretakan, dan
  • kekerasan.

Ternyata, orang lain tak dapat menaruh perhatian untuk membina anak dan mendidiknya berakhlak mulia. Sebagaimana yang dapat keluarga dari anak tersebut lakukan. Dan hal ini akan mendatangkan malapetaka bagi anak dan masyarakat.

Terkadang pembantunya adalah orang kafir. Akibatnya si anak juga terpengaruh dengan akidah yang menyimpang atau akhlak yang rusak yang mereka dapat darinya.

Maka, bila kita terpaksa mengambil pembantu, usahakanlah dapat pembantu Muslimah yang baik. Dan usahakan tak bersama anak kecuali sebentar saja dalam keadaan terpaksa.

5. Menampakkan Kelemahannya dalam Mendidik Anak

Kesalahan para pendidik ini banyak terjadi pada ibu-ibu dan kadangkala terjadi pada bapak-bapak. Kita dapatkan, misalnya, seorang ibu berkata, “Anak ini mengesalkan. Aku tidak sanggup. Tak tahu apa yang harus kuperbuat dengannya.”

Padahal anak mendengarkan ucapan ini. Maka anak juga merasa bangga bisa mengganggu ibunya dan membandel, karena dapat menunjukkan eksistensi dirinya dengan cara ini.

6. Berlebihan dalam Memberi Hukuman dan Balasan
a. Hukuman

Hukuman adalah sesuatu yang agama syariatkan dan termasuk salah satu sarana pendidikan yang berhasil. Yang sesekali mungkin pendidik perlukan.

Tapi ada yang sangat berlebihan dalam memakai sarana ini yang membuatnya sangat berbahaya dan berakibat sebaliknya. Misalnya, ada orangtua yang :

  • menahan anaknya beberapa jam di kamar yang gelap bila melakukan kesalahan,
  • mengikat anaknya bila berbuat sesuatu hal yang mengganggunya,
  • dan sebagainya.

Hukuman harus bertingkat-tingkat, mulai dari pandangan yang punya arti sampai hukuman berupa pukulan. Pendidik mungkin harus memakai hukuman yang lebih daripada sekedar pandangan yang memojokkan atau kata-kata celaan.

Bahkan mungkin terpaksa menggunakan hukuman berupa pukulan. Tapi ini adalah penyelesaian akhir, tak dibutuhkan kecuali bila tak ada cara lain.

Ada beberapa kaidah (prinsip dasar) yang perlu Anda perhatikan dalam pemakaian hukuman pukulan, antara lain :

  • Tak memakai hukuman pukulan kecuali bila sudah tak ada cara lain lagi.
  • Pendidik tak boleh memukul saat dalam keadaan marah sekali, karena dikhawatirkan akan membahayakan anak.
  • Tak memukul pada bagian-bagian yang menyakitkan, seperti : wajah, kepala, dada, dll.
  • Pukulan pada tahap pertama hukuman tak keras dan tak Serta tak boleh lebih dari 3 kali pukulan, kecuali jika terpaksa, maka tak melebihi 10 kali pukulan.
  • Tak boleh memukul anak yang berumur di bawah 10 tahun.
  • Jika kesalahan anak baru pertama kali hendaknya pendidik beri kesempatan bertaubat dan minta maaf atas perbuatannya. Juga mencarikan penengah yang kelihatannya dapat mengusahakan supaya hukuman tidak pendidik timpakan dengan mengambil janji dari si anak agar tidak mengulangi kesalahannya.
  • Hendaklah pendidik sendiri yang memukul anak, tidak menyerahkannya kepada salah satu saudara atau temannya, karena hal ini dapat menimbulkan kebencian dan kedengkiannya terhadap anak lain yang ikut menghukumnya.
  • Jika anak telah memasuki usia baligh dan pendidik berpendapat bahwa sepuluh kali pukulan tidak cukup membuat anak jera, maka pendidik boleh menambahnya.
b. Imbalan

Memberi imbalan juga di antara sarana mendidik. Akan tetapi hendaknya pula terukur, dan tidak berlebihan dalam melayani anak. Karena hal itu bisa menyebabkan anak menjadi materialistis yang tidak mau melakukan suatu yang baik kecuali dengan imbalan.

Maka hendaklah mendorongnya untuk melakukan kebaikan dari dalam dirinya. Dan boleh memotivasinya dengan memberinya hadiah sesekali waktu.

7. Berusaha Mengekang Anak Secara Berlebihan

Yaitu tidak diberi kesempatan bermain, bercanda, dan bergerak. Ini bertentangan dengan tabiat anak dan dapat membahayakan kesehatannya. Sebab permainan penting bagi pertumbuhan anak dengan baik.

Permainan di tempat yang bebas dan luas merupakan faktor terpenting yang membantu :

  • pertumbuhan jasmani anak,
  • menjaga kesehatannya,
  • dan lainnya.

Maka orangtua seyogyanya tak mencegah anak-anak yang sedang asyik bermain pasir saat wisata ke tepi pantai atau di tengah padang pasir.

Karena itu merupakan waktu mereka bersenang-senang dan bermain, bukan waktu berdisiplin. Tak ada waktu kebebasan bergerak bagi anak-anak kecuali dalam kesempatan wisata yang bebas. Maka sekali-kali mereka harus dibiarkan.

8. Mendidik Anak Tidak Percaya Diri dan Merendahkan Pribadinya

Sayang, hal ini banyak tejadi di kalangan bapak-bapak. Padahal ini berpengaruh buruk terhadap masa depan anak dan pandangannya pada kehidupan.

Karena anak yang terdidik rendah pribadi dan tak percaya diri, maka :

  • akan tumbuh jadi penakut, dan lemah;
  • tidak mampu menghadapi beban dan tantangan hidup, bahkan setelah dewasa;
  • dan sebagainya.

Karena itu, seyogyanya kita mempersiapkan anak-anak kita untuk siap melaksanakan tugas-tugas Agama dan dunia. Dan hal ini tak akan tercapai kecuali dengan mendidik mereka untuk :

  • memiliki rasa percaya dan harga diri;
  • tidak sombong dan takabur, serta
  • senantiasa mengupayakan supaya anak dikenalkan pada hal-hal yang bernilai tinggi dan dijauhkan dari hal-hal yang bernilai rendah.

Perhatikanlah rasa percaya anak pada dirinya dan keberaniannya dalam kebenaran.

Baca juga : Kesalahan Saat Menunggu Kelahiran Anak

Demikian informasi seputar kesalahan para pendidik yang perlu anda mengerti, semoga artikel kali ini membantu kawan-kawan semua. Mohon artikel pendidikan anak islami ini kalian bagikan agar semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi : Pendidikan Anak dalam Islam, Yusuf Muhammad al-Hasan

Leave a Comment

WeCreativez WhatsApp Support
Admin ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!