Muslimah Career

Bagaimana Jika Perempuan Bekerja?

Bagaimana Jika Perempuan Bekerja?

Kali ini kami akan ulas terkait dengan Bagaimana Jika Perempuan Bekerja. Sudah banyak orang memperbincangkan dalam diskusi, seminar, loka-karya, dan lain-lain tentang hakikatnya perempuan bekerja. Islam sendiri tentu sudah jauh-jauh hari mengatur dan membahas dengan bahasa yang, seperti biasa, indah dan tegas.

Bagaimana Jika Perempuan Bekerja?

Bagaimana Jika Perempuan Bekerja?

Secara logika muslim, Allah tentu saja senang dengan muslim yang giat berusaha, memiliki kegiatan, bekerja, beramal, dan tidak berdiam diri. Allah tentu saja bangga melihat umat yang kreatif dalam berkreasi. Nah, berangkat dari itu semua, tentu perempuan bekerja pun tidak dilarang Allah. Asal harus diingat bahwa semua itu sesuai dengan jalan Islam.

Firman Allah,

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyianyiakan amal orana-orana yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan …’.” (QS. Ali Imran [3] : 195)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya ….” (QS. Al- Baqarah [2] : 286)

Berpikir dan bekerja (melakukan aktivitas) sudah menjadi tabiat manusia sebagai makhluk hidup. Jika tidak demikian maka dia bukanlah manusia. Khususnya sebagai seorang istri, aktivitas yang baik adalah taat kepada suaminya. Taat dalam berumah tangga, taat dalam mengambil keputusan, taat menjalankan peran sebagai seorang istri, dan taat dalam menjalani kehidupan dengan suami. Tetapi tentu ketaatan yang tidak melanggar syariat Islam.

Alasan Dibolehkannya Perempuan Bekerja

Pekerjaan apapun yang diniati karena Allah, pasti akan bernilai ibadah. Jadi, jika istri memegang tampuk ‘kekuasaan’ sebagai direktur di sebuah perusahaan, tetapi niatnya untuk menimbun kekayaan, sudah pasti tidak bernilai ibadah. Malah dikhawatirkan menimbulkan konflik dan fitnah di lingkungan.

Sebaliknya, jika istri ‘hanya’ berperan sebagai ibu rumah tangga, namun semua itu diniati dengan hati yang ikhlas karena Allah, sudah pasti bernilai ibadah dan mendapat pahala dari-Nya. Jadi, alangkah baiknya seorang perempuan yang memiliki karir meniatkan pekerjaannya sebagai sebuah ibadah.

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16] : 97)

Berkaitan dengan hal tersebut, bisa dikatakan bahwa bekerja adalah salah satu amal ibadah. Di samping menjadi manusia yang dituntut beramal secara individu, perempuan juga adalah makhluk sosial. Dia adalah bagian dari masyarakat. Sebagai seorang istri yang juga merupakan bagian dari masyarakat. Jadi, memang pada dasarnya tidak apa-apa seorang istri mengambil peran dalam masyarakat.

Jika kita kembali menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Islam, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan perempuan aktif dalam berbagai aktivitas. Para perempuan boleh bekerja dan berkarir dalam berbagai bidang, asal dilakukan dengan cara yang baik, benar, dan halal, sesuai ketentuan syariat.

Karir tersebut dikerjakan secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.

Seorang muslimah diperbolehkan bekerja dengan alasan-alasan sebagai berikut.

1. Jika ia seorang janda

Seorang janda baik janda secara substansi maupun secara status diperbolehkan bekerja untuk menjaga jati dirinya dan mencegah perbuatan mengemis dan berutang.

2. Membantu suaminya dan suaminya mengizinkan

Dalam hal ini istri berperan sebagai mitra kerjasama secara ekonomi.

3. Membantu keluarga suami atau istri

Ketika seseorang memerlukan bantuan, maka yang wajib menolongnya adalah keluarga terdekatnya. Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, ‘Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?’ Kedua wanita itu menjawab, ‘Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orangtua yang telah lanjut umurnya’.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa perempuan yang bekerja untuk orangtuanya merupakan salah satu bentuk ibadah.

Penyebab Dilarangnya Perempuan Bekerja

Pada intinya, perempuan boleh bekerja. Namun, ada beberapa hal yang akan menjadikannya haram. Penyebab tidak bolehnya wanita bekerja berkaitan dengan hal berikut ini.

  1. Jenis pekerjaan yang pada dasarnya haram. Dalam hal ini seperti jenis pekerjaan menjadi PSK, pelayan kafe / bar yang harus bergaul dengan bukan muhrim, penipuan, lintah darat, dan lainnya.
  2. Jenis pekerjaan yang halal dilakukan tetapi dituntut untuk melanggar aturan Islam. Misalnya, menjadi sekretaris yang mengharuskannya berpakaian tanpa jilbab. Sekretaris adalah jabatan yang halal, tetapi keharusan berpenampilan tanpa jilbab melanggar syariah Islam. Allah Mahakaya, dia tidak akan menutup pintu rezeki hamba-Nya yang bertekad menegakkan syariah Islam. Justru pintu rezeki akan terbuka lebar baginya.
  3. Hal-hal yang sifatnya pribadi sehingga membuat seorang perempuan tidak bisa bekerja. Misalnya tidak boleh bekerja seperti kemampuan menjaga niat, tidak bisa menjaga pergaulan dengan lain jenis, tidak mendapat ijin dari suami, dan lain sebagainya.

Sekian info perihal Bagaimana Jika Perempuan Bekerja, semoga postingan kali ini membantu Anda. Kami berharap postingan ini dishare agar semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi:

Leave a Comment